Thursday, April 7, 2016

Ngomongin Solidaritas Nih

Sepertinya dua hari terakhir sedang ramai berita gosip seputar artis yang menggundul rambutnya dengan alasan "demi solidaritas bagi penderita kanker", ya... Sayup-sayup sih, saya dengarnya, dari media elektronik tetangga, haha...

Eh, tapi, pas buka fb pagi tadi, berita itu ada di halaman muka. Hmmm, buka, nggak, buka, nggak... Nggak jadi aja deh! Info berita gosip artis dari suami lebih hot kayaknya. Kata suami, teman-teman di kantornya pada suka gosipin artis, itulah kenapa dia tahu banyak tentang gosip artis terkini, hihi...

Eits! Stop! Jangan diteruskan. Dilarang nge-gosip, lho! Itu namanya ghibah. Kalau begitu saya tidak jadi membahas berita gosip artis deh. Tapi saya akan membahas seputar solidaritas saja, hehe...

Solidaritas. Menurut KBBI yang saya punya, solidaritas bermakna: sifat (perasaan) solider; sifat satu rasa (seperti senasib); dan perasaan setia kawan. Kalau solider bermakna: bersifat mempunyai atau memperlihatkan perasaan bersatu (senasib, sehina, semalu, dan sebagainya); (rasa) setia kawan.

Menurut saya, sifat solidaritas merupakan sifat yang terpuji. Namun tidak jarang, ada orang-orang yang menunjukkan sikap solider dengan cara yang keliru. Terutama di kalangan remaja, yang memang memiliki rasa setia kawan yang tinggi. Saya pernah mendapati seorang remaja yang merokok karena alasan klise, "teman-teman main saya semuanya merokok. Ya, saya ikut merokok laaah. Solider..." Begitu jawabannya. Haddeeeh...

Begitu juga dengan gosip yang lagi ramai media. Menurut saya, itu sudah termasuk berlebihan dalam menangkap sebuah makna solidaritas. Kalau hanya untuk menunjukkan rasa peduli terhadap penderita kanker, rasanya tidak perlu lah, harus dengan menggundul rambut. Masih banyak cara lain yang bisa ditempuh. Atau kalau berduit banyak, langsung saja berikan bantuan biaya pengobatan bagi para penderita kanker.

Itu sih menurut pendapat saya. Orang lain bisa saja memiliki pendapat yang berbeda. Eh, tadi itu yang digosipin siapa sih? Kok jadi membahas gosip lagi? Udahan aja deh! Daripada ntar malah keterusan... Ini juga sudah malam. Tunjukkan solidaritas kepada tetangga kanan dan kiri. Malam hari itu waktunya istirahat, jadi jangan membuat keributan. Apalagi dengan bergosip, hihi...


Pamulang, 7 April 2016
#menanggapi isu hangat negeriku tercinta

Wednesday, April 6, 2016

Toilet Training Terlambat, Ini Tipsnya

Asyik bermain

Mendapati materi kuliah via whatsapp (kulwap) yang saya ikuti membahas masalah Toilet Training (TT), saya jadi bersemangat untuk memulai TT. Meski ini sudah amat sangat terlambat, tapi tetap harus dilakukan. Bukankah lebih baik terlambat daripada terus dibiarkan--ngeles ini mah, haha...

Kenapa terlambat? Iya, karena anak keempat saya sudah berusia 3,5 tahun. Anak keempat? Bagaimana dengan anak pertama, kedua dan ketiga saya? Alhamdulillah, mereka semua sukses melakukan TT di rentang usia 1 - 1,5 tahun. Ketiganya terbilang lancar, sesuai target dan harapan. Nyaris tidak ada yang pernah mengompol. Kalau pun sempat terjadi, itu bisa dihitung jari.

Terus kenapa anak keempat begitu terlambat? Alasannya banyak laaah... Namanya orang gagal atau terlambat kan biasanya punya banyak alasan? Tapi itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana mengajarkan anak TT di usia tersebut.

Saya memulai TT pada anak keempat, empat hari yang lalu. Sebelumnya saya sudah pernah mencobanya. Namun saat itu dia berontak, menolak untuk tidak memakai popok sekali pakai (pospak). Padahal sudah sejak lama dia bisa jongkok dan bisa berbicara dengan baik. Yang artinya, dia seharusnya sudah bisa menyampaikan apa yang diinginkannya, termasuk keinginannya untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB).

Kalau saya perhatikan, anak saya berontak karena dia sudah merasa nyaman memakai pospak. Dia merasa bebas BAK dan BAB kapan saja dan di mana saja. Namun ada kalanya dia tidak memakai pospak tanpa memberontak, yaitu saat dia mainan air. Nah, hari minggu kemarin, kebetulan saya mengajaknya berenang. Karena jarak rumah dengan kolam renang cukup dekat, setelah mandi saya langsung memakaikan dia baju untuk renang, tanpa pospak. Alhasil, dia tidak protes, kan mau renang, hehe...

Setelah puas bermain air, tiba waktunya bilas dan ganti baju. Saya sengaja kembali tidak memakaikan pospak. Dia merasa senang karena habis berenang, sehingga dia tidak protes tidak memakai pospak. Sampai di rumah, saya ingatkan dia kalau sedang tidak memakai pospak. Jadi saya minta dia untuk menyampaikan jika ingin BAK atau BAB. Tapi karena dia biasa memakai pospak, bisa dipastikan awalnya dia tidak akan memberitahu bila ingin BAK maupun BAB. Bagaimana solusinya?

Untuk langkah selanjutnya, simak tips-tips berikut ini!

Langkah pertama. 
Carilah kesempatan kapan anak merasa nyaman dan tidak terganggu tanpa pospak.

Bisa saat anak-anak akan berenang seperti kondisi anak saya di atas. Atau di saat-saat lain dimana anak sudah terbiasa melakukan kegiatan itu tanpa memakai pospak, misalnya saat bermain di luar rumah.

Langkah kedua.
Selalu perhatikan gerak gerik anak, kenali tanda-tandanya saat ingin BAK dan BAB

Perhatikan anak, nomer duakan dulu pekerjaan rumah yang lain, karena ini sangat penting untuk keberhasilan TT. Pasti ada tingkah yang bisa dikenali saat anak ingin BAK dan BAB. Meski tentu saja kita baru akan mengetahuinya setelah anak sudah terlanjur BAK di celana alias mengompol. Sabaaar... 

Langkah ketiga.
Kenali rentang waktu anak biasa BAK

Percobaan pertama gagal itu biasa. Jangan lihat gagalnya, tapi lihatlah berapa jam waktu yang dibutuhkan anak antara BAK pertama dengan BAK berikutnya. Rentang waktu itu bisa digunakan sebagai acuan untuk mempersiapkan diri menjelang BAK yang berikutnya lagi.

Langkah keempat.
Ajaklah anak ke kamar mandi pada saat yang tepat

Setelah tahu rentang waktunya, gunakan kesempatan untuk mengajak ke kamar mandi. Bisa dengan menanyakan dulu, "Adik kepingin pipis? Ayo, kita pipis ke kamar mandi?" Tapi jangan terlalu sering ya, karena pasti akan membuat dia tidak nyaman, dan bisa menggagalkan TT. Selalu perhatikan suasana anak dan kesempatan yang ada sebelum bertanya.

Langkah kelima.
Ulangi langkah kedua dan ketiga hingga anak jadi terbiasa.

Percobaan kedua masih gagal? Tetap sabar! Percayalah, untuk anak seusia itu, terkena basah oleh pipisnya sendiri sampai dua kali atau lebih, pasti akan membuat dia tidak nyaman. Pada hari pertama, dia mungkin belum mau bilang kalau mau BAK dan BAB, tapi pandangan matanya akan memberi isyarat kepada kita bahwa dia menginginkannya. Itulah kenapa, langkah kedua, selalu memperhatikan gerak gerik anak menjadi sangat penting.

Langkah keenam.
Teruslah bersabar dan tahan untuk tidak marah selama proses melakukan langkah kedua hingga langkah kelima

Modal pertama TT baik untuk anak di usia tepat untuk TT maupun yang terlambat adalah kesabaran kita sebagai orang tua. Mungkin ada yang mudah di awal-awal TT, tapi di tengah-tengah tiba-tiba anak mengompol itu hal yang biasa. Itulah resiko TT. Jadi siapkan stok sabar sebanyak mungkin, ya... Sebisa mungkin jangan memarahi anak hanya karena mengompol. Itu akan membuat program TT itu percuma. Ingat! Tujuan dari Toilet Training adalah agar anak bisa mengontrol diri dari keinginannya untuk BAK dan BAB tidak pada tempatnya--kamar mandi.

Itulah langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk bisa berhasil TT. Saya sudah mencobanya pada anak keempat saya. Dan hingga hari keempat ini, tidak ada hambatan yang terlalu berarti. Ingat untuk tetap sabar dan menahan diri untuk tidak marah.


Pamulang, 6 April 2016
#TipsToiletTraining