Friday, July 10, 2015

Salah Satu Keterbatasan Saya Sebagai Manusia

"Katakanlah: 'Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah', dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan."
(Q.S. An Naml: 65)

Saya lahir dan besar di Situbondo. Di rumah tempat saya tinggal dulu, ada cukup banyak pohon mangga. Dari yang pohonnya besar hingga pohon-pohon kecil hasil mencangkok. Jenisnya pun bermacam-macam, dari yang umum di pasaran, hingga jenis yang jarang ditanam orang. Mangga-mangga yang dihasilkan dari pekarangan rumah itu biasanya dibeli para tengkulak dalam jumlah besar, sehingga menjadi sumber rizki tambahan bagi orang tua saya. Namun tidak semua buah mangga yang dijual. Ada beberapa pohon kecil yang buahnya dipersiapkan khusus untuk dinikmati sendiri atau dibagikan saat ada saudara yang datang berkunjung bertepatan dengan musim mangga.

Dulu, mangga menjadi buah favorit yang paling banyak dan sering saya makan. Namun meski saya cukup menyukai rasanya, saya bisa menahan diri untuk tidak membeli, dan memilih untuk menunggu buah mangga hasil panen sendiri. Saya dan keluarga hampir tidak pernah memetik buah mangga untuk diperam, tapi kami akan menunggu hingga mangga benar-benar sudah tua atau bahkan matang di pohon. Hingga tidak jarang kami mendapati beberapa buah mangga sudah krowok dimakan codot atau burung. Kalau sudah begitu, barulah perburuan buah mangga matang pohon, dimulai. Ya, mungkin hanya dengan cara itu, selain tentu saja menghitung hari sejak mangga mulai berbuah, saya bisa mengenal bahwa mangga-mangga itu sudah siap dipetik dengan rasa yang manis atau belum.


Tapi, bagaimana dengan buah mangga yang dijual di supermarket dan pasar-pasar buah? Mampukah saya mengenali tingkat kematangan mangga-mangga itu? Jawabannya adalah TIDAK!

Sejak saya tinggal jauh dari rumah, saya sempat membeli buah mangga karena salah satu anak saya yang begitu menyukainya. Tapi kebanyakan buah yang saya pilih tidak pernah memuaskan, meski dari sisi tampilan sepertinya sudah oke. Kadang rasanya yang tidak manis atau daging buahnya yang tidak begitu merah meski rasanya cukup manis. Seperti buah manalagi yang memang punya rasa cukup manis meski sebetulnya buahnya belum terlalu tua untuk dipanen. Bertahun-tahun saya hidup dengan buah mangga dan menjadikan mangga sebagai buah yang banyak saya nikmati-karena tidak perlu membeli-ternyata tidak membuat saya mampu membedakan dan mengenali mangga yang berkualitas baik dan tidak.

Tidak hanya buah mangga, saya juga paling kesulitan mengenali buah pepaya. Meskipun kulitnya sudah berwarna kuning kemerahan, tidak jarang setelah dibuka isinya sama sekali tidak merah. Dan jelas terlihat kalau buah itu dipetik dalam keadaan masih terlalu muda, dan untuk mematangkannya tentu menggunakan proses pemeraman yang boleh jadi "karbitan". Begitu pula dengan buah-buahan yang sejenis.

Namun, disinilah saya belajar, bahwa saya hanyalah makhluk (yang diciptakan) yang tidak punya pengetahuan apa-apa, dan Allah adalah sang Kholik (yang menciptakan) yang Maha Mengetahui segala seuatu. Bagi saya, bagaimana warna dan rasa daging buah mangga dan buah pepaya merupakan sesuatu yang ghaib, yang belum saya ketahui hingga saya membukanya. Sebagaimana tercantum dalam surah an-Naml ayat 65 di atas, 'Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'.

Hal ghaib lain yang bisa dijadikan contoh adalah kondisi janin yang ada dalam rahim. Meski saat ini sudah ada alat canggih yang bisa mengenali janin dari segi kelengkapan secara fisik dan jenis kelaminnya, tidak jarang ketika keluar "wujud"nya berbeda seperti yang diperkirakan. Hal ini dijelaskan oleh Allah melalui firman-Nya dalam surah Luqman ayat 34:
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Ya, begitulah manusia, termasuk saya, yang sangat terbatas kemampuannya. Tidaklah manusia memiliki pengetahuan akan sesuatu melainkan hanya sedikit saja, dan itu pun terjadi hanya dengan kehendak dan ijin Allah.

Wednesday, July 8, 2015

Hati-hati Saat Sholat Berjamaah


Selama tarawih, dari malam pertama hingga tadi malam, saya dapati, ada saja jamaah yang tidak sabar saat mengikuti gerakan imam.
Saya tahu, karena jamaah itu berada tidak jauh atau bahkan bersebelahan dengan saya.

Ketika imam mengucapkan takbir pada setiap gerakan sholat, tunggulah hingga imam sempurna mengucapkan takbir itu, barulah kita sebagai makmum mengikutinya dengan takbir pula.
Kebayang tidak, saat imam baru mengucapkan, "All...", lalu kita sebagai makmum langsung mengikuti dengan juga mengucapkan takbir sebelum imam sempurna mengucapkannya.
Padahal takbir imam cukup panjang, "Allaaaaaahu Akbar", sementara takbir kita singkat, "Allahu Akbar".
Jika tidak hati-hati, bukannya mengikuti imam, kita justru telah mendahului gerakan imam.
Menunggu imam mengucapkan takbir hingga sempurna, tentu berbeda dengan berlambat-lambat dalam mengikuti gerakan imam, hingga jauh tertinggal.

Yang juga perlu mendapat perhatian adalah pada saat gerakan salam.
Pastikan kita sebagai makmum menunggu setidaknya hingga salam pertama imam sempurna diucapkan, barulah kita mengikuti mengucapkan salam dengan "tempo" yang tidak jauh berbeda dengan imam.
Karena biasanya imam gerakannya santai dan pelan.
Berbeda dengan makmum yang antara salam pertama dan keduanya seperti tidak ada spasi.

Beberapa kali saya mendapati seorang makmum yang melakukan gerakan salam saat imam belum sempurna mengucapkan salam pertamanya.
Dan kebanyakan dari mereka yang melakukan itu, akan melanjutkan gerakan salam keduanya tanpa peduli lagi apakah imam sudah mengucapkan salam keduanya atau belum.

Alih-alih menjadi makmum sholat dengan mengikuti gerakan imam, kita sudah selesai tengok kanan tengok kiri, ternyata imam baru mengucapkan, "assalamu'alaikum" untuk salam keduanya.
Astaghfirullah...

Seberapa penting mengikuti gerakan imam dalam sholat berjamaah?

Simak saja hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, berikut:

"Dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidakkah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, merasa takut sekiranya Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau Allah menjadikan rupanya sebagai rupa keledai’.

Jadi, sebagai kehati-hatian kita saat sholat berjamaah, ingat-ingat pepatah nJawa (kata saya) ini ya:
- - - Ngikuti Imam BUKAN Mbarengi Imam - - -

Lebih baik bersabar beberapa saat menunggu imam sempurna bacaan takbirnya, daripada kita kehilangan pahala sholat berjamaah dan Allah mengganti kepala kita dengan kepala keledai, bukan?
Kalau gerakan makmumnya serempak mengikuti imam yang telah menyempurnakan gerakannya, kan sholat berjamaahnya juga jadi indah...

*Yuk, sempurnakan sholat berjamaah kita!