Kamis, 27 Desember 2018

Anak-anak Libur, Saatnya Melakoni Peran Sebagai "Emak" Sekaligus "Ayah"

Berkendara bersama krucils

Emak, liburan akhir tahun ini ke mana?
Adakah yang seperti saya?
Saat anak-anak liburan, saya bukannya "nyantai", tapi justru inilah waktu di mana saya benar-benar berperan sebagai "emak" sekaligus "ayah".
Kenapa begitu?

Sejak tahun ajaran baru ini, sudah dua dari lima anak saya yang masuk pesantren dan satu lagi tinggal bersama mbah-nya. Meski dua anak saya yang lain masih terbilang kecil-kecil (satu lagi malah masih bayi), tapi sejak tiga anak tidak lagi tinggal di rumah, terasa benar perbedaannya. Berasa ada sesuatu yang hilang dari kehidupan saya. "Beban kerja" terasa lebih ringan namun saya merasa ada yang kurang dari aktivitas keseharian saya yang memang lebih banyak fokus pada suami.

Ternyata saat anak-anak "pergi" dari rumah, hal-hal unik dari masing-masing mereka menjadi sesuatu yang terkadang dirindukan. Tak ada lagi yang hampir tiap hari pegang ulekan buat bikin sambal geprek. Tak terdengar lagi permintaan membuat mie instan yang kadang membuat saya harus bawel mengingatkan untuk tidak sering-sering makan mie. Tak ada lagi yang bisa dicerewetin (anak-anak yang masih di rumah kan belum cukup umur buat dicerewetin, hihi, alesan ini mah). Tak ada lagi ....

Liburan akhir tahun ini, yang juga menjadi masa liburan anak-anak tanpa keberadaan ayahnya, saya dan anak-anak sudah menyusun rencana. Lewat kontak via telepon dengan anak-anak yang di pesantren, kami sepakat merencanakan liburan di dua tempat. Sepekan pertama di Malang dan sepekan berikutnya di Situbondo. Agar rencana berjalan lancar, saya harus memulainya dengan menyusun agenda pribadi A sampai Z yang akan saya lakukan. Inti agendanya sih sederhana, saya hanya harus benar-benar menjadi "emak", sebuah peran yang selama 4-5 bulan terakhir seolah "terlupakan".

Perjalanan untuk melakoni peran "emak" pun dimulai dari Situbondo, di mana anak ke-3 dan ke-4 sekarang tinggal. Hampir sebulan terakhir ini saya memang berada di Situbondo. Bersama pakdhe-nya anak-anak, saya dan anak ke-5 berangkat ke Malang lebih awal untuk menyiapkan rumah yang sudah tidak ditinggali selama 5 bulan terakhir. Emak pasti tahu apa yang akan dan harus saya lakukan. Karena emaklah yang paling tahu seperti apa kondisi rumah yang dibiarkan tak berpenghuni dalam waktu cukup lama, hehe... 😍

Saya punya waktu 3 hari untuk menyiapkan rumah menjadi siap ditempati. Karena pada hari ke-4, anak ke-3 dan ke-4 yang mulai libur sekolah akan datang menyusul ke Malang bersama bulik-nya. Pada hari yang sama, pakdhe-nya kembali ke Situbondo untuk menyelesaikan pekerjaan di sana. Jadi saya harus menjemput sendiri anak-anak ke tempat bulik-nya yang selama di Malang tinggal bersama keluarga besar suaminya. Setelah itu, bersih-bersih rumah, memasak, dan mencuci pun menjadi kegiatan rutin yang "wajib" hukumnya. Sebagai hiburan di sela-sela kesibukan itu, saya memilih untuk membersihkan dan mengatur tanaman. Itu kesibukan emak juga sih ya ... tapi karena saya menyukainya, aktivitas itu jadi berasa sebagai hiburan di antara aktivitas rutin lainnya.

Keesokan harinya saya menjemput anak ke-2 di Terminal Arjosari, Malang, setelah dia menempuh perjalanan dari tempatnya nyantri di Kudus, Jawa Tengah. Dua hari kemudian giliran anak pertama yang datang setelah dia melalui petualangan perjalanannya dengan kereta api dari Purwokerto menuju Surabaya dan selang sehari dilanjutkan perjalanan darat dengan kendaraan pribadi bersama 7 orang temannya menuju ke Malang. Anak-anak sudah punya agenda masing-masing untuk mengisi liburan mereka di Malang, terutama anak pertama yang menghabiskan liburan di Malang kali ini bersama 7 orang temannya. Emaknya? Jangankan liburan, aktivitas saya malah lebih padat dari sebelumnya. Tapi bahagia rasanya melihat anak-anak bisa berkumpul dan mereka bisa menikmati liburannya.

Senin kemarin, usailah sudah anak-anak menghabiskan sepekan pertama liburannya di Malang. Sesuai rencana, tiba waktunya melanjutkan liburan yang tersisa sepekan itu di Situbondo. Pakdhe-nya sempat berpesan untuk memberi kabar kalau saat perjalanan ke Situbondo dari Malang perlu dibantu nyetir. Tapi saya putuskan untuk menyetir sendiri saja. Jadilah perjalanan ke Situbondo kali ini sebagai perjalanan pertama yang saya tempuh hanya bersama anak-anak (tanpa ayah mereka, hiks).

Perkiraan saya lalulintas akan lancar karena sudah memasuki puncak liburan dengan asumsi bahwa orang-orang yang mau liburan sudah di lokasi, jadi jalanan bakal sepi. Apalagi sebuah surat kabar Malang sempat mengabarkan kalau Tol Mapan akan dibuka sementara selama masa liburan dari tanggal 21 Desember 2018 hingga tanggal 1 Januari 2019. Tapi ternyata perkiraan saya meleset. Ruas jalan dari arah Kota Malang justru lebih padat dari ruas arah sebaliknya. Tol Mapan juga hanya dibuka satu arah saja, yaitu yang menuju Malang. Alamaaak ... macetnya sungguh tak terduga! Syukurlah saya cukup punya pengalaman menikmati kemacetan selama beberapa tahun tinggal di dekat Kota Jakarta. Setidaknya kesabaran menghadapi kemacetan sudah cukup terlatih, haha ....

Macetnya biasa ... kesabaran menghadapi macet terlatih. Tapi waktu tempuh yang dibutuhkan tetap menjadi lebih lama dan tidak ada yang menggantikan saya pegang kemudi. Aha ... saatnya saya berperan sebagai "Ayah" yang selama saya belum bisa pegang kemudi selalu menyetir sendiri tanpa lelah. ("Terima kasih, Ayah, sudah mengajariku bersabar di jalan.")

Bahkan saya harus berperan sebagai emak sekaligus ketika anak saya yang masih bayi ingin "dekat" dengan bundanya. Agar tidak menambah lama waktu tempuh perjalanan, saya memilih sesekali menyetir sambil memangku si bayi. Sekali waktu saya juga sempatkan menyetir sambil ngASI hingga si bayi tertidur di pangkuan sementara saya terus pegang kemudi.

Alhamdulillah ... akhirnya kami tiba juga di Situbondo dengan dua kali berhenti sebentar untuk sholat dan membeli makanan kecil. Lama perjalanan menjadi 2 jam lebih lama, dari yang biasanya 4 jam menjadi 6 jam. Di luar kemacetan sepanjang jalur Malang - Purwodadi, kondisi lalulintas secara umum cukup ramai. Tapi itu menjadi berkah buat saya. Karena lalulintas ramai membuat saya yang menyetir selama 6 jam terhindar dari rasa mengantuk.

Ini cerita liburan saya bersama anak-anak. Bagaimana cerita liburan, Emak? Yuuuk berbagi di komen...

#CeritaLiburanku

Sabtu, 03 November 2018

Kembali Dengan Kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammadar Rasulullah


Laailaaha illallah Muhammadar rasulullah

Satu kalimat yang merupakan kunci keislaman seseorang, pembeda antara mukmin dan kafir. Satu kalimat di mana seorang muslim sejati tidak hanya ingin hidup tapi juga ingin mati di atas kalimat itu.

Beberapa waktu yang lalu, negeri mayoritas muslim sekaligus negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini dihebohkan dengan pembakaran bendera tauhid. Yakni sebuah bendera yang di atasnya tertulis kalimat tauhid, laa ilaaha illallah muhammadar rasulullah.

Mendengar berita itu, saya sebagai muslim yang baru beberapa hari sebelumnya ditinggal suami berpulang ke pangkuan Ilahi, saat itu hanya bisa menggelengkan kepala lemah. Ada rasa kesal, marah, heran, aneh, gak habis pikir, melongo, gak percaya, dan berbagai perasaan yang entah saya sendiri bingung mana yang harus saya tunjukkan kepada mereka yang telah melakukan pembakaran. Tidak lain alasannya adalah karena informasi yang saya dapatkan mengabarkan bahwa pelakunya nota bene juga muslim. Tidak mengertikah mereka (para pembakar bendera itu) akan bendera dan panji Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?

Saya hanyalah satu dari sekian orang yang merasa bangga dengan lambang bendera tauhid. Saya bersyukur Allah memberi kesempatan pada saya untuk mengenal kalimat yang memang sejak pertama kali hadir di dunia, ayah saya sudah memperdengarkannya kepada saya sebelum kalimat-kalimat lainnya. Lantunan adzan suami saya -yang di dalamnya terkandung kalimat tahuhid itu- juga menjadi kalimat pembuka yang pertama kali diperdengarkan sangat dekat dengan telinga lima orang putra-putri saya. 

Sebuah kesaksian yang secara formal kami (saya dan suami sebagai orang tua) buktikan kepada Allah sebagai kewajiban pertama dan utama dalam mengenalkan anak keturunan kami kepada Robb-nya, Allah Sang Kholiq, Yang Maha Menciptakan mereka. Sebuah pengajaran tauhid yang memang menjadi fitrah setiap makhluk sejak mereka masih berupa nutfah. Sebagaimana firman-Nya:

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini," atau agar kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan (yang datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat?""
(QS. Al A'raf: 172-173)

Ya, sejak masih dikeluarkan dari sulbi, setiap kita sudah memberikan pernyataan kesaksian akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan kesaksian akan pengakuan penghambaan kita sebagai makhluk bahwa hanya Allah-lah sesembahan kita, bukan yang lainnya. Maka ritual pengumandangan adzan kepada bayi yang baru dilahirkan menjadi pengingat akan kesaksian tersebut dan tunailah satu kewajiban pertama sebagai orang tua terhadap anak keturunannya. Setelah itu dilanjutkan dengan tugas berikutnya, yaitu mendidik dan mengajarkan anak-anak sesuai fitrahnya yang berlandaskan pada ketauhidan. Wujud dari ketauhidan itu adalah dengan menjadi sebenar-benar hamba yang beribadah hanya kepada Allah semata. Sebagaimana firman-Nya:

"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Adz Dzariyat: 56)

Sungguh, menjalankan kehidupan dengan tetap istiqomah untuk beribadah hanya kepada Allah semata itu bukanlah hal yang mudah. Ada banyak sekali rintangan menghadang, baik dari setan yang memang menjadi musuh nyata bagi manusia, maupun rintangan yang datang dari setan berwujud manusia. Bahkan meski jelas bagi kita bahwa suatu amal perbuatan itu bisa mengantarkan kita kepada surganya atau nerakanya Allah, masih banyak manusia yang lalai dan tertipu oleh tipu daya setan yang memang selalu ingin menyesatkan manusia.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat." (HR. Muslim)

Akan tetapi, selama hayat masih dikandung badan, kesempatan untuk selalu kembali kepada jalan yang disediakan Allah akan selalu ada. Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan selalu memberikan ampunan kepada siapa saja yang memohon ampunan kepada-Nya, kecuali saat nafas sudah tersisa di tenggorokan dan kematian sudah sangat dekat. Itulah kenapa tidak menunda-nunda waktu untuk bertaubat dari semua dosa dan kesalahan kepada Allah sangat diperlukan. Yaitu agar kita bisa kembali menghadap Allah dalam keadaan berserah diri hanya kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun (bertauhid). Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
(QS. Ali Imran: 102)

Beberapa hadits juga menunjukkan bahwa balasan surga itu bisa diperoleh dengan melaksanakan kewajiban mentauhidkan Allah, di antaranya:

Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Tidaklah seorang hamba mengucapkan: Laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah) kemudian ia mati dalam keadaan seperti itu, kecuali ia masuk surga." Aku (Abu Dzar radhiyallahu 'anhu) bertanya, "Meskipun ia berzina dan mencuri?" Beliau menjawab, "Meskipun ia berzina dan mencuri." Beliau mengulanginya tiga kali, (hingga) kemudian pada kali keempat beliau bersabda, "Meskipun Abu Dzar radhiyallahu 'anhu tidak menyukainya." Abu Dzar radhiyallahu 'anhu pun keluar dan berkata, "Kendati Abu Dzar tidak menyukainya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda kepada Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, "Tidaklah seorang hamba bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah (Laa ilaaha illallaah) dan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. melainkan Allah mengharamkannya atas neraka."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Sesunngguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah (laa ilaaha illallaah),' dan ia mencari wajah Allah dengannya (kalimat laa ilaaha illallaah)."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan kalimat tauhid itu pulalah yang saya harapkan Allah anugerahkan kepada suami saya untuk bisa mengucapkannya menjelang detik-detik akhir kehidupannya, disertai kalimat istighfar yang terus saya bisikkan ke telinganya. Diawali dengan istighfar dan ditutup dengan ikrar kalimat tauhid, yang dengan keduanya saya berharap agar Allah memberikan ampunan atas segala dosa dan khilaf suami, serta menerima iman dan islamnya. Sehingga suami saya bisa meraih akhir kehidupan yang baik atau husnul khotimah.

Tak ada satu pun muslim yang tidak ingin meninggal dalam keadaan husnul khotimah, karena itulah sebaik-baik keadaan saat kita kembali ke pangkuan-Nya. Hanya dengan keadaan itulah, insya Allah kita bisa terhindar dari siksa kubur dan azab neraka, serta surga yang dijanjikan-Nya bisa diraih.


#CurhatSeorangIstri