Thursday, March 31, 2016

Belajar Sejarah di Monumen dan Museum PETA

Gerbang masuk Monumen dan Museum PETA
Kemarin saya menemani Zahra melakukan kunjungan bersama teman-teman sekolahnya ke Monumen dan Museum PETA di kota Bogor. Berangkat sekitar jam 6 pagi dari Pamulang--Tangerang Selatan, sekitar satu setengah jam kemudian kami sudah sampai di lokasi Monmus (Monumen dan Museum). Perjalanan bisa dibilang lancar. Mungkin karena arahnya yang menjauh dari Jakarta di pagi hari. Monmus ini berada di Jalan Jenderal Sudirman Nomer 35 Bogor.

Tiba setengah jam lebih awal dari jadwal yang direncanakan, anak-anak, para guru dan orang tua menggunakan kesempatan itu untuk berfoto-foto di halaman luar Monmus. Terdapat dua patung besar, dua tank, dan satu prasasti di halaman depan itu. Kondisinya sangat baik dan terawat, sangat cocok untuk dijadikan teman ber-selfie dan ber-selwee ria. Lingkungan halamannya juga hijau dan sangat asri. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikannya dalam sebuah foto.

Patung Panglima Besar Jenderal Soedirman
Prasasti dari batu
Tank yang begitu gagah dan bersih
Jalan setapak yang dihiasi tanaman palm dan bunga-bunga
Melewati gerbang masuk Monmus, seperti melewati terowongan berjarak pendek. Kanan kirinya merupakan bangunan museum yang sudah ada berdiri sejak tahun 1900-an. Dalam bangunan itu terdapat beberapa diorama yang menggambarkan jejak pembentukan PETA dan Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang merupakan cikal bakal terbentuknya TNI (Tentara Nasional Indonesia). Berikut ini beberapa di antaranya:

Kesepakatan tokoh-tokoh negara Indonesia untuk mengupayakan berdirinya PETA (tahun 1943)
Kegiatan latihan di pusat pendidikan perwira PETA di Bogor (tahun 1943)
Pembentukan bataliyon-bataliyon PETA di daerah-daerah (tahun 1944)
Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Jl. Pegangsaan Timur no. 56
Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal TNI (22 Agustus 1945)
Pemilihan panglima besar Tentara Keamanan Rakyat (12 November 1945)
Dari diorama-diorama yang ada, nuansa Jepang begitu kental terlihat dari pakaian dan aksesoris yang digunakan tentara PETA. Berbicara tentang PETA memang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan tentara Jepang di negeri ini pada masa sebelum Indonesia merdeka, begitu kurang lebih penjelasan guide museum yang ada di sana. Informasi detil mengenai hal tersebut bisa ditanyakan langsung saat berkunjung ke Monmus yaaa...

Di dalam museum juga terdapat beberapa koleksi senjata. Yang unik, ternyata senjata-senjata itu berbahan kayu, hanya mesinnya saja yang dari besi. Dan untuk sementara, senjata-senjata itu non aktif, karena bagian mesinnya dilepas. Senjata-senjata itu merupakan hasil rampasan para pejuang Indonesia dari tangan Jepang. Jepang sendiri memperoleh senjata-senjata itu dari hasil merampas milik tentara sekutu. Haha, begitulah perang.

Beberapa koleksi senjata yang ada di dalam museum
Pemandangan halaman dalam Monmus tidak kalah menarik untuk dijadikan obyek foto-foto. Bangunan-bangunan lama yang khas, pepohonan yang rindang, serta jalan-jalan setapaknya yang bersih membuat saya betah berlama-lama duduk di kursi yang ada di beberapa sudut Monmus.

Halaman dalam Monmus
Nah, tunggu apalagi? Masih ingin menikmati diorama yang lainnya? Ingin menikmati suasana sejuk bernuansa militer? Atau ingin menikmati refreshing sarat ilmu, terutama tentang sejarah PETA? Segeralah berkunjung ke Monumen dan Museum PETA di kota Bogor ini ya...


#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari
#24

Tuesday, March 29, 2016

Merenda Jalan Surga


Mentari belumlah tinggi
Saat tepat untuk pergi
Namun aku memilih berhenti
Meninggalkan seribu mimpi
Untuk mengukir satu janji
Di sini, aku akan mengabdi

...
Gerbang dunia baru terbentang di depan mata. Bayangan wajah ceria berbalut busana toga semakin nyata. Setelah sidang tertutup bersama delapan mata penuh wibawa. Akhirnya segala usaha itu akan juga berbuah tiga lembar kertas penuh makna. Bersama langkah mantap di panggung sakral bernama wisuda.

...
Iya, satu langkah akhirnya terlewati. Langkah yang sempat mendatangkan keraguan orangtuaku lantaran aku memutuskan mengakhiri masa lajang sebelum pendidikanku usai. Pernyataan bidan sebulan setelah akad terlaksana, menambah waswas orangtua bahwa aku akan kesulitan meraih gelar sarjana. Aku terlambat datang bulan, dan bidan menyatakan sudah ada janin yang menghuni rahimku. Tak bisa kugambarkan bagaimana suasana hatiku kala itu. Antara bahagia dan terbawa perasaan orangtua yang waswas dengan keadaanku.

Tepat seminggu setelah ujian akhir semester delapan, anak pertamaku lahir. Hampir semua matakuliah sudah aku selesaikan dengan nilai memadai saat itu. Namun skripsiku nyaris belum tersentuh sedikit pun. Merawat bayi seorang diri dan tinggal terpisah dengan suami, memaksaku sejenak melupakan skripsiku. Setelah jagoanku melewati tiga bulan pertamanya, aku mulai mengunjungi kampus setiap dua minggu sekali. Usaha yang berbuah manis enam bulan berikutnya.

...
"Kita ke Kalimantan, ya?" ucap suamiku dengan ekspresi penuh harap agar aku memenuhi ajakannya.
"Iya, terserah Ayah saja. Kalau memang itu baik menurut Ayah, saya akan ikut." jawabku dengan ekspresi yang sulit ditebak, antara iya atau tidak.
Jawaban dan ekspresi yang hampir selalu sama setiap aku merespon pertanyaan dan ajakan suami tentang keputusannya dalam menjalani kehidupan bersamaku. Entahlah, meski jawaban iyaku kadang tersamar, aku tidak pernah bisa menolak semua tawaran dan keputusan suamiku. Termasuk permintaannya untuk melangsungkan pernikahan sederhana, tanpa panggung, dan tanpa riasan pengantin. Aku pun memenuhinya dan mengabaikan keinginan orangtuaku yang ingin melihat putrinya tampil seperti ratu sehari kala itu.

...
Tepat setahun usia anakku, akhirnya aku, suami dan anakku berangkat ke Kalimantan. Keputusan yang aku pikir lebih baik, daripada aku ikut bekerja bersama suamiku di tempat kerja sebelumnya dan meninggalkan anakku tinggal bersama orangtuaku. Sekaligus memenuhi permintaan orangtua suamiku yang ingin agar salah satu anaknya ada yang bisa menjadi PNS, dalam hal ini sebagai guru. Kebetulan daerah transmigrasi tempat mertuaku tinggal, membuka SMA baru saat itu.

(bersambung)


#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari
#22