Wednesday, March 11, 2015

Buah Matoa

 buah matoa

          Dalam kunjungan saya dan suami ke Kalimantan Timur beberapa minggu yang lalu, salah satu yang berkesan adalah ketika sahabat suami memberi saya buah ini. Ya, itu adalah kali pertama saya melihat secara langsung dan merasakan buah matoa. Saya semakin merasa takjub karena buah itu dipetik langsung dari pohon yang ada di halaman rumahnya.
          Tujuan utama suami berkunjung ke rumah sahabatnya tentu untuk silaturahmi, karena sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Tapi memang, suami juga berencana untuk memetik buah-buahan di kebun sahabatnya yang hobbi bertanam itu. Namun buah yang menjadi target suami sebenarnya adalah buah naga. Kabarnya, buah naga yang ada di kebun sahabatnya itu sudah siap dipetik. Apalagi tanaman buah naga yang ada di halaman rumah mertua belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berbuah.
          Sebagai buah yang tergolong baru bagi warga di sini, menanam buah naga dan melihatnya berbuah masih menjadi hal yang cukup istimewa. Terasa berbeda dengan saat melihat pohon rambutan berbunga dan berbuah, sudah biasa. Begitu pula saat mendapati buah-buahan lain yang memang banyak tumbuh di daerah Kalimantan, seperti: durian atau lai, dan cempedak.
          Kembali ke kebun buah milik sahabat suami. Setelah say hello dan berbincang beberapa saat, suami pun menanyakan tentang kebun sahabatnya, dan tentu saja buah naganya. Tanpa ba-bi-bu, sahabat suami langsung mengajak kami ke halaman belakang rumahnya. Di sana kami langsung memetik buah naga yang sudah berwarna merah pertanda sudah bisa dimakan. Melihat buah rambutan yang ranum, suami jadi tertarik untuk memetiknya juga. Sekalian, sahabat suami menawarkan buah duku yang beberapa sudah mulai bisa dimakan.

lezatnya makan buah hasil memetik sendiri, 
meski bukan dari kebun sendiri

          Selesai memetik buah, kami melanjutkan dengan memakannya. Nah, di saat sedang asyik menikmati buah-buahan itulah, tiba-tiba sahabat suami meletakkan buah berwarna merah kecoklatan itu di hadapan kami. Saya pun langsung menanyakan buah tersebut yang ternyata adalah buah matoa. Sahabat suami mengatakan kalau buah itu dikenal juga dengan sebutan klengkeng papua. Setelah mencicipi satu buah, saya langsung jatuh cinta terhadap rasanya yang manis. Daging buahnya putih agak kenyal, memang sangat mirip dengan buah klengkeng.

sumber foto:

          Menurut informasi dari Wikipedia, buah matoa yang merupakan buah khas Papua ini umumnya hanya berbuah sekali dalam setahun. Berbunga pada bulan Juli sampai Oktober dan berbuah 3 atau 4 bulan kemudian. Beruntung sekali, ternyata saya datang pada waktu yang sangat tepat. Tepat saat buah matoa ini berbuah dan siap dipetik, dan untuk selanjutnya siap dimakan. Hmm, senangnya bisa menikmati buah yang cukup langka dan kaya vitamin E ini hingga puas, gratis pula.
         

Tuesday, March 3, 2015

Aku dan Matematika (bagian 2)





Aku begitu suka akan angka
Hingga aku sering mereka-reka
Manakah yang lebih dulu kueja
Mungkinkah itu angka?


            Begitu sukanya aku akan angka
            Hingga terasa lebih indah mengutak-atik angka
            Daripada harus bersusah merangkai kata
            Meski tak selalu bisa kubaca


Bagiku angka telah menjadi sihir yang nyata
Dengan angka aku mampu berkuasa
Walau bukan di dunia nyata
Aku merasa seperti raja


(Pamulang, 9 Februari 2015)